Langsung ke konten utama

TANDA DARI TUHAN

Terus menerus bekerja di tempat yang sama, membuat saya jadi seperti memakai kacamata kuda. Tak bisa melihat bahwa ada kemungkinan untuk mencari nafkah dengan cara-cara yang berbeda.

Saya tidak pernah mengeluh dengan beban pekerjaan, meskipun kadang tak menikmatinya. Saya bertahan dan terus berusaha menjalani hari-hari di kantor dengan sebaik-baiknya. Penilaian tahunan saya "Baik" atau Sangat Baik". Tak pernah "Cukup" apalagi "Kurang".

Setelah lebih dari 18 tahun bekerja di tempat yang sama, saya menjadi gelisah dan bosan. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor. Kurang tidur, makan tak terjaga, tak pernah olah raga, stress yang tak terkelola. Pekerjaan itu tidak lagi membuat saya puas dan bahagia, tapi saya masih butuh uangnya.

Karena tak punya nyali untuk berhenti bekerja, akhirnya Tuhan yang memberi tanda. Suatu malam saya merasakan pusing tak tertahankan, tak bisa berdiri, saya berjalan dengan cara merangkak.

Saya dilarikan ke rumah sakit. Melalui pemeriksaan USG dan MRI, ketahuan pembuluh darah di kepala tersumbat di tiga tempat. Masih untung bukan di bagian otak yang mengontrol kesadaran, atau syaraf motorik, atau bagian fatal lainnya. Jadi alhamdulillah saya tidak mati atau cacat.

Tiga bulan saya tidak masuk kerja, sebelum akhirnya  mengajukan pengunduran diri. Dua tahun kemudian saya terheran-heran sendiri, ternyata keluar dari pekerjaan lama tidak membuat dunia kiamat. Saya masih hidup dan baik-baik saja. Lebih sehat dan bahagia.

Sekarang saya punya kemewahan yang tak saya miliki sebelumnya, waktu berlimpah untuk menulis dan membaca, dua hal yang paling saya suka.

Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA MINI: BIBIR TERMANIS

BIBIR TERMANIS Cerita Mini: J.P. SUNU Semenjak masih SMA, Joni hanya menginginkan dua hal saja untuk dimiliki. Pertama dompet tebal di kantongnya, yang kedua bibir tipis seorang kekasih. Namun, yang didapatkannya justru kebalikannya: dompet yang tipis, dan pacar berbibir tebal. Takdir, ternyata punya selera humor yang menjengkelkan. Joni sungguh tak tahu diri, padahal pacarnya pintar dan setia, meski sifat cemburunya agak mengerikan. Joni hanya pura-pura setia, karena membutuhkan otak encer Yuko untuk membantu mengerjakan PR-nya, dan membimbing otaknya sendiri yang berkualitas rendah agar bisa lulus sekolah. Setelah lulus sekolah, Yuko tidak memilih jurusan yang disukainya sendiri di perguruan tinggi, melainkan mengikuti jurusan yang menurutnya termudah agar bisa satu kelas untuk menemani dan menjaga Joni selama kuliah.   Entah apa yang dilihat oleh Yuko pada diri Joni, cintanya kepada Joni adalah sejenis cinta yang sangat buta.     Yuko sesunguhnya gadis ...

ASAP DARI SURGA

Bukan cuma neraka yang berasap, surga juga. Demikian penjelasan dari Si Anu. Asap surga bisa membuatmu tertawa gembira. "Coba saja kalau tak percaya." Katanya, sambil menyodorkan sebatang rokok lintingan dan korek api. Si Anu ini kelas satu SMA, pindahan dari Jakarta. Dia kos di rumah kami, di daerah pelosok bernama kecamatan Jumapolo. Saya masih kelas satu SMP saat itu. Entah kenapa saya menolak tawarannya. Padahal saya sendiri suka mencuri-curi kesempatan mencoba merokok, kadang-kadang. Kenapa Si Anu pindah dari Jakarta ke pelosok kampung kami, adalah misteri. Pokoknya, ayahnya kebetulan naik bus bareng ayah saya, lalu kenalan, kemudian minta tolong supaya anaknya boleh kos di rumah kami. Katanya, pergaulan remaja di Jakarta kurang baik. Si Anu itu orangnya asik, baru saja pindah temannya langsung banyak. Di rumah kami,  sikapnya juga baik, sepertinya cukup kerasan. Yang membuat saya heran, dia suka sekali keramas dengan daun seledri, katanya bisa bikin rambut jad...

POLITIK KAMPUNG

Saya pernah tinggal di sebuah kampung, di komplek perumahan lama. Kebanyakan penghuninya adalah usia pensiunan, atau menjelang pensiun. Jadi saya termasuk warga muda. Ketika tiba waktu pergantian ketua RT, saya kaget karena nama saya masuk nominasi calon ketua RT. Dan lebih kaget lagi ketika hasil pemungutan suara saya menang mutlak. Saya merasa tidak kompeten, mereka jauh lebih senior dan terlihat lebih pantas menjadi ketua RT. Tapi mereka bilang "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Ternyata semua tidak baik-baik saja. Suatu malam salah satu warga yang baru keluar dari penjara, menemui saya dengan mulut bau alkohol. Dia marah-marah, karena selama di penjara, pengurus RT tidak mengunjunginya, dan tidak memberinya sumbangan dari dana sosial RT. Dia merasa seharusnya diperlakukan sama dengan warga yang masuk rumah sakit. Ditengok dan disumbang ala kadarnya. Apalagi dia masuk penjara hanya karena menusuk orang, dalam rangka berebut menguasai lahan parkir. "It...