Langsung ke konten utama

ASAP DARI SURGA

Bukan cuma neraka yang berasap, surga juga. Demikian penjelasan dari Si Anu. Asap surga bisa membuatmu tertawa gembira. "Coba saja kalau tak percaya." Katanya, sambil menyodorkan sebatang rokok lintingan dan korek api.

Si Anu ini kelas satu SMA, pindahan dari Jakarta. Dia kos di rumah kami, di daerah pelosok bernama kecamatan Jumapolo. Saya masih kelas satu SMP saat itu.

Entah kenapa saya menolak tawarannya. Padahal saya sendiri suka mencuri-curi kesempatan mencoba merokok, kadang-kadang.

Kenapa Si Anu pindah dari Jakarta ke pelosok kampung kami, adalah misteri. Pokoknya, ayahnya kebetulan naik bus bareng ayah saya, lalu kenalan, kemudian minta tolong supaya anaknya boleh kos di rumah kami. Katanya, pergaulan remaja di Jakarta kurang baik.

Si Anu itu orangnya asik, baru saja pindah temannya langsung banyak. Di rumah kami,  sikapnya juga baik, sepertinya cukup kerasan.

Yang membuat saya heran, dia suka sekali keramas dengan daun seledri, katanya bisa bikin rambut jadi jabrik dan keren. Ah, barangkali inilah yang dimaksud pergaulan anak Jakarta. Anak kampung mana ngerti.

Sejauh ini tak ada persoalan yang berarti menyangkut Si Anu. Paling kadang telat pulang sekolah, atau pulang dari main agak kemaleman. Tak ada tanda-tanda kenakalan remaja.

Namun suatu hari, polisi datang ke rumah kami, membuat ayah saya panik tak terkira. Si Anu dan teman-temannya jajan bakso tapi tak mau bayar. Mereka bahkan merusak gerobak baksonya, dan membuat tukang baksonya ketakutan setengah mati.

Sampai di kantor polisi, ayah saya baru tahu, ternyata Si Anu dan teman-temannya ditangkap dalam kondisi mabuk. Sialnya lagi, Si Anu ketahuan membawa rokok lintingan yang ternyata ganja.

Ayah saya menelepon ayah Si Anu. Esoknya ayah Si Anu datang ke rumah kami. Membawa barang-barang Si Anu pergi. Sejak itu, Si Anu menghilang dari kehidupan kami.

Saya kemudian menyadari, rokok lintingan yang pernah ditawarkannya ke saya itu adalah ganja. Tapi saya tidak pernah tahu apakah asapnya benar-benar dari surga, karena sampai sekarang saya belum pernah mencoba.

Setelah saya renung-renungkan kembali, sebenarnya banyak sekali "asap dari surga" dalam versi yang berbeda-beda menghampiri hidup saya. Saya hanya orang biasa, dengan tingkat keimanan yang saya duga di bawah kadar yang seharusnya. Jadi saya curiga, kenapa hingga saat ini sering terhindar dari godaan dosa, kemungkinan hanya karena Tuhan masih kasihan sama saya.


Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA MINI: BIBIR TERMANIS

BIBIR TERMANIS Cerita Mini: J.P. SUNU Semenjak masih SMA, Joni hanya menginginkan dua hal saja untuk dimiliki. Pertama dompet tebal di kantongnya, yang kedua bibir tipis seorang kekasih. Namun, yang didapatkannya justru kebalikannya: dompet yang tipis, dan pacar berbibir tebal. Takdir, ternyata punya selera humor yang menjengkelkan. Joni sungguh tak tahu diri, padahal pacarnya pintar dan setia, meski sifat cemburunya agak mengerikan. Joni hanya pura-pura setia, karena membutuhkan otak encer Yuko untuk membantu mengerjakan PR-nya, dan membimbing otaknya sendiri yang berkualitas rendah agar bisa lulus sekolah. Setelah lulus sekolah, Yuko tidak memilih jurusan yang disukainya sendiri di perguruan tinggi, melainkan mengikuti jurusan yang menurutnya termudah agar bisa satu kelas untuk menemani dan menjaga Joni selama kuliah.   Entah apa yang dilihat oleh Yuko pada diri Joni, cintanya kepada Joni adalah sejenis cinta yang sangat buta.     Yuko sesunguhnya gadis ...

POLITIK KAMPUNG

Saya pernah tinggal di sebuah kampung, di komplek perumahan lama. Kebanyakan penghuninya adalah usia pensiunan, atau menjelang pensiun. Jadi saya termasuk warga muda. Ketika tiba waktu pergantian ketua RT, saya kaget karena nama saya masuk nominasi calon ketua RT. Dan lebih kaget lagi ketika hasil pemungutan suara saya menang mutlak. Saya merasa tidak kompeten, mereka jauh lebih senior dan terlihat lebih pantas menjadi ketua RT. Tapi mereka bilang "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Ternyata semua tidak baik-baik saja. Suatu malam salah satu warga yang baru keluar dari penjara, menemui saya dengan mulut bau alkohol. Dia marah-marah, karena selama di penjara, pengurus RT tidak mengunjunginya, dan tidak memberinya sumbangan dari dana sosial RT. Dia merasa seharusnya diperlakukan sama dengan warga yang masuk rumah sakit. Ditengok dan disumbang ala kadarnya. Apalagi dia masuk penjara hanya karena menusuk orang, dalam rangka berebut menguasai lahan parkir. "It...