Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

PENYAKIT PIKIRAN

Teman saya itu, orang yang bijak. Meski telah berpangkat tinggi, bergaji besar, tetap saja rendah hati. Penuh perhatian terhadap sesama teman. Suatu hari beliau menelepon saya. Katanya mendengar kabar, bahwa kondisi kesehatan saya sedang kurang bagus.  Setelah menyampaikan rasa simpati yang mengharukan, beliau mulai memberi tips rahasia hidup sehat. Menurutnya, semua penyakit bersumber dari pikiran. Kalau kita berpikir bahwa kita sehat, maka sehatlah kita. Berpikir yang sebaliknya, akan membuat kita sakit. Ini adalah konsep yang mengguncang pikiran saya. Pikiran yang menurut beliau sudah kuno dan memalukan. Saya mulai menyesal,  mengapa selama ini berpikir dengan cara yang salah. Beliau menambahkan, jangan selalu percaya nasehat dokter,  yang melarang kita  makan ini dan itu. Karena semua makanan sesungguhnya baik, asal kita berpikir baik. Dokter hanyalah manusia biasa, seperti kita-kita. Semakin saya merenungkan nasehat-nasehatnya, semakin saya terpesona. ...

POLITIK KAMPUNG

Saya pernah tinggal di sebuah kampung, di komplek perumahan lama. Kebanyakan penghuninya adalah usia pensiunan, atau menjelang pensiun. Jadi saya termasuk warga muda. Ketika tiba waktu pergantian ketua RT, saya kaget karena nama saya masuk nominasi calon ketua RT. Dan lebih kaget lagi ketika hasil pemungutan suara saya menang mutlak. Saya merasa tidak kompeten, mereka jauh lebih senior dan terlihat lebih pantas menjadi ketua RT. Tapi mereka bilang "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Ternyata semua tidak baik-baik saja. Suatu malam salah satu warga yang baru keluar dari penjara, menemui saya dengan mulut bau alkohol. Dia marah-marah, karena selama di penjara, pengurus RT tidak mengunjunginya, dan tidak memberinya sumbangan dari dana sosial RT. Dia merasa seharusnya diperlakukan sama dengan warga yang masuk rumah sakit. Ditengok dan disumbang ala kadarnya. Apalagi dia masuk penjara hanya karena menusuk orang, dalam rangka berebut menguasai lahan parkir. "It...

MELAWAN POLISI

Waktu itu saya masih kelas 5 SD, begitu pula teman saya. Pulang sekolah, kami jalan kaki. Melewati belakang kantor polisi. Dari pagar tembok belakang kantor polisi, kami melihat setandan pisang menyembul dari pohonnya, di atas pagar. Menguning, matang, dan mengundang. Entah dari mana ide itu datang, kami mulai menyusun rencana mission impossible, untuk merampok setandan pisang menggiurkan. Di pekarangan kantor polisi. Waktu itu, ide itu terasa sangat hebat dan menantang. Bayangkan, 2 anak kecil menyerang sebuah lembaga yang berfungsi memelihara keamanan dan menegakkan hukum. Dalam konteks yang lebih luas, kami sedang bersekongkol melawan negara. Rencana hebat itu melibatkan sebuah tangga bambu, sebilah pisau dapur, dan kebodohan kami berdua. Temanku mulai memanjat tangga bambu sambil membawa pisau dapur, saya memegangi tangga agar tak ambruk. Sampai di atas pagar, teman saya segera beraksi dengan pisaunya, berusaha memotong tandan pisang dari pohonnya. Sejauh ini, rencana ber...

SAKSI MATA

Suatu hari seseorang datang ke rumah, memperkenalkan diri. Dengan sopan sekaligus  memelas, meminta kesediaan saya untuk menjadi saksi di pengadilan. Pengadilan? Yang benar saja!  Saya tidak mau berurusan dengan hukum. Saya tidak tahu resikonya, dan ini berbahaya. Saya harus bilang "TIDAK" tentunya. Sayangnya, mulut saya malah bilang "Ya, saya akan datang." Setelah tamu itu pergi, saya mengutuki diri sendiri. Sebelum masuk ruang sidang, pengacaranya mendekati saya dan mengatakan, agar saya nanti mengatakan apa adanya. Karena jika dianggap kesaksian palsu, bisa dipenjara. Mungkin pengacara itu bermaksud baik, tapi omongannya  memperparah kegugupan saya. Di depan sidang saya mengucapkan sumpah dengan terbata-bata. Menit-menit pertama, saya memberikan kesaksian dengan sangat hati-hati. Tapi pengacara lawan memprovokasi, meragukan kapasitas saya sebagai saksi. Saya jadi emosi. Saya mulai mengoceh tanpa kendali. Dengan kesal saya mengatakan hal-hal buruk t...