Langsung ke konten utama

POLITIK KAMPUNG

Saya pernah tinggal di sebuah kampung, di komplek perumahan lama. Kebanyakan penghuninya adalah usia pensiunan, atau menjelang pensiun. Jadi saya termasuk warga muda.

Ketika tiba waktu pergantian ketua RT, saya kaget karena nama saya masuk nominasi calon ketua RT. Dan lebih kaget lagi ketika hasil pemungutan suara saya menang mutlak.

Saya merasa tidak kompeten, mereka jauh lebih senior dan terlihat lebih pantas menjadi ketua RT. Tapi mereka bilang "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja."

Ternyata semua tidak baik-baik saja.

Suatu malam salah satu warga yang baru keluar dari penjara, menemui saya dengan mulut bau alkohol. Dia marah-marah, karena selama di penjara, pengurus RT tidak mengunjunginya, dan tidak memberinya sumbangan dari dana sosial RT.

Dia merasa seharusnya diperlakukan sama dengan warga yang masuk rumah sakit. Ditengok dan disumbang ala kadarnya. Apalagi dia masuk penjara hanya karena menusuk orang, dalam rangka berebut menguasai lahan parkir. "Itu adalah perjuangan mencari nafkah!" Geramnya dengan mata merah melotot.

Saya tahu, berdebat tak ada gunanya. Apalagi, sepertinya dia tak keberatan untuk menusuk orang sekali lagi jika perlu. Maka saya berjanji akan membicarakan masalah ini dalam rapat RT, untuk memperjuangkan aspirasinya. Kemudian dia pergi dengan menggerutu.

Lain waktu, seorang warga mengadu karena setiap hari ayam tetangganya berak di teras rumahnya. Saya menyampaikan keberatan itu ke pemilik ayam, tapi yang bersangkutan malah emosi. "Kalau saya dilarang memelihara ayam, saya akan berternak anjing saja! Biar tahu rasa dia!"

Konflik warga kampung ternyata tak ada habisnya. Ibu muda yang histeris minta surat pengantar untuk mengajukan cerai. Tengah malam polisi mengetuk pintu untuk koordinasi menangkap warga yang terlibat penggelapan. Lama-lama saya tak tahan lagi.

Saya mendapat tunjangan operasional Rp. 250.000,- per tahun dari kelurahan sebagai ketua RT. Tapi sebenarnya, saya lebih senang membayar Rp. 500.000,-  agar tidak menjadi ketua RT.

Setelah saya pikir-pikir, saya merasa diperdaya. Politik kampung berbeda dengan politik negara. Pada level negara, politik adalah cara untuk meraih kekuasaan. Di kampung saya, politik adalah cara untuk jangan sampai mendapatkan "kekuasaan".

Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA MINI: BIBIR TERMANIS

BIBIR TERMANIS Cerita Mini: J.P. SUNU Semenjak masih SMA, Joni hanya menginginkan dua hal saja untuk dimiliki. Pertama dompet tebal di kantongnya, yang kedua bibir tipis seorang kekasih. Namun, yang didapatkannya justru kebalikannya: dompet yang tipis, dan pacar berbibir tebal. Takdir, ternyata punya selera humor yang menjengkelkan. Joni sungguh tak tahu diri, padahal pacarnya pintar dan setia, meski sifat cemburunya agak mengerikan. Joni hanya pura-pura setia, karena membutuhkan otak encer Yuko untuk membantu mengerjakan PR-nya, dan membimbing otaknya sendiri yang berkualitas rendah agar bisa lulus sekolah. Setelah lulus sekolah, Yuko tidak memilih jurusan yang disukainya sendiri di perguruan tinggi, melainkan mengikuti jurusan yang menurutnya termudah agar bisa satu kelas untuk menemani dan menjaga Joni selama kuliah.   Entah apa yang dilihat oleh Yuko pada diri Joni, cintanya kepada Joni adalah sejenis cinta yang sangat buta.     Yuko sesunguhnya gadis ...

ASAP DARI SURGA

Bukan cuma neraka yang berasap, surga juga. Demikian penjelasan dari Si Anu. Asap surga bisa membuatmu tertawa gembira. "Coba saja kalau tak percaya." Katanya, sambil menyodorkan sebatang rokok lintingan dan korek api. Si Anu ini kelas satu SMA, pindahan dari Jakarta. Dia kos di rumah kami, di daerah pelosok bernama kecamatan Jumapolo. Saya masih kelas satu SMP saat itu. Entah kenapa saya menolak tawarannya. Padahal saya sendiri suka mencuri-curi kesempatan mencoba merokok, kadang-kadang. Kenapa Si Anu pindah dari Jakarta ke pelosok kampung kami, adalah misteri. Pokoknya, ayahnya kebetulan naik bus bareng ayah saya, lalu kenalan, kemudian minta tolong supaya anaknya boleh kos di rumah kami. Katanya, pergaulan remaja di Jakarta kurang baik. Si Anu itu orangnya asik, baru saja pindah temannya langsung banyak. Di rumah kami,  sikapnya juga baik, sepertinya cukup kerasan. Yang membuat saya heran, dia suka sekali keramas dengan daun seledri, katanya bisa bikin rambut jad...