HANTU-HANTU CILIK
Cerita
Mini: J.P. SUNU
Asal muasal dan
siapa sejatinya kami, para hantu cilik ini, tak benar-benar kami mengerti.
Tak seorang pun bisa ditanya. Kadang kami merasa,
kami lebih dekat kepada jenis makhluk manusia, daripada sebagai bagian dari bangsa
dedemit.
Namaku adalah
Tutu, dua temanku yang lain bernama Yuyu, dan Ulul. Itu nama asal-asalan yang
kami ciptakan begitu saja.
Kami bertiga, memiliki
ingatan remang-remang yang mirip. Kebanyakan merasa, ketika membuka mata
pertama kali, kami ada di sekitar klinik aborsi. Malam Jumat Kliwon, tanggal 13.
Sejenak kami
sempat mengira, klinik itulah rumah kami, tetapi ternyata kami tidak bisa
tinggal berlama-lama, ada semacam hawa jahat yang menyakiti. Jadi begitu
terbangun dari tidur–atau barangkali dari mati–kami segera berlari. Seperti
kerumunan anak-anak ular menetas dari cangkang-cangkang telur di sarangnya. Melata
pergi.
Beberapa detik
kemudian, dari langit terdengar desingan-desingan. Bola api berjatuhan mengarah
kepada kami, disertai suara tawa, terbahak-bahak mirip
halilintar memekakkan telinga. Kami ketakutan. Beberapa dari kami tersambar api
dengan telak, langsung hangus jadi arang. Pekik kesakitan bersahut-sahutan
tanpa henti.
Lalu dari
kegelapan, muncul sosok-sosok perempuan berbaju putih, wajahnya hitam
kemerah-merahan, serupa lelehan darah yang membusuk. Rambut mereka panjang dan
kusut. Ada lubang besar di punggungnya, lubang itu mengeluarkan lendir hijau
gelap dengan bau memualkan.
Semula kami mengira
sosok-sosok itu hendak menyelamatkan kami, jumlah mereka kira-kira sama dengan
kami. Kami terdorong naluri untuk berlari dan memeluk mereka, namun mereka
menjaga jarak. Hanya melayang-layang di atas kami.
Tanpa pertolongan
dan tercekam rasa ngeri, kami berlari. Dan terus berlari. Jumlah kami yang
semula ratusan, menyusut dengan cepat dalam hujan bola-bola api. Entah telah
berapa jauh kami berlari, ketika akhirnya aku dan dua temanku terjatuh ke dalam
sumur tua. Hujan bola-bola api berhenti
mengejar kami.
Sumur itu masih
ada airnya sedikit, namun telah bercampur dengan segala macam sampah dan bangkai tikus.
Kami bertiga menggigil dalam gelap.
Di atas sana, di
bibir sumur, terlihat tiga sosok makhluk perempuan, yang sejak tadi
melayang-layang mengikuti pelarian kami. Terdengar berbicara satu sama lain.
Mereka menyebut-nyebut kami yang sedang berada di dalam sumur ini, adalah tu-yu-ul. Sedang makhluk berwujud gumpalan
api, yang barusan mengejar dan membunuh sebagian besar dari kami, adalah lelembut
bernama Banaspati. Luar biasa kejam. Senang
membunuh siapa saja, atau apa saja, tetapi
yang paling disukainya adalah membunuh hantu-hantu cilik tak berdosa, seperti
kami.
Tak berapa lama
kemudian sosok-sosok perempuan itu menjauh pergi, sambil terkekeh-kekeh. Entah
karena senang, atau barangkali menertawakan kepedihan kami.
***
Semula kami tidak
menyadari seperti apakah wajah kami. Namun itu tak lama. Masih di dalam sumur,
setelah mulai reda dari ketakutan, kami bertiga menoleh dan memandang satu sama
lain. Sedetik kami tercekat, lalu menjerit, kaget setengah mati. Tubuh kami terjengkang, saling menjauh membentur dinding sumur.
Wajah
teman-temanku―itu bukan wajah―itu seharusnya agar-agar basi dibanting ke lantai batu. Atau lebih buruk dari itu.
Tubuh mereka juga bobrok,
mirip hewan terlindas mobil. Salah satu temanku ususnya terburai, sehingga
selalu repot, berusaha memasukkan ke dalam perutnya yang basah menganga.
Temanku yang lain duburnya bengkak terbuka,
dari dalamnya cairan kuning kehitaman merembes, menetes-netes, menodai apa
saja.
Namun, dari jerit
ngeri kedua temanku, mungkin penampakanku yang paling rusak. Aku bersumpah
tidak akan melihat wajahku sendiri. Nantinya, aku menjauhi semua cermin.
Kelak kami hanya bisa
menduga-duga, bentuk kami adalah bagian dari proses aborsi. Proses yang barangkali, juga membunuh ibu kami.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar