DUA PESAN AYAH
Cerpen: J.P. SUNU
Talita sedang uring-uringan. Pada
hari ulang tahunnya, ayahnya malah memberinya hadiah berupa sebuah novel, berjudul
My Beloved Niqobi, karya salah satu penulis FLP (Forum Lingkar Pena) yang
bernama Finaira Kara. Talita sangat kecewa, bukan hadiah novel yang Talita inginkan.
Talita menginginkan ponsel model
terbaru, seperti yang dimiliki teman-temannya. Ponsel canggih, bukan ponsel
jadul yang loading time-nya bikin
frustrasi, dan telah lama kehabisan memory
space seperti miliknya ini. Belum lagi tampilan layar kecilnya yang retak, sehingga
membuatnya ditertawakan teman-teman.
Akhir-akhir
ini Talita sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa ayahnya pelit sekali.
Talita tahu, ayahnya bukan orang miskin, meski juga bukan orang yang sangat
kaya raya. Dengan pekerjaannya sebagai kontraktor bangunan, Ayahnya sanggup
menyekolahkannya di sekolah favorit dengan ongkos mahal sejak dari PAUD hingga
SMA. Namun, membelikan ponsel saja kenapa
tak bisa.
***
Sebuah pesan
masuk dari aplikasi pengirim pesan:
Selamat ulang tahun yang ke 17, Talita.
Maafkan Papa terlambat mengucapkan.
Adakah hadiah yang kau inginkan, Sayang?
- Papamu: Herman Wibowo -
Talita
mengerutkan kening, pesan ini bukan berasal dari nomor ayahnya. Lagipula, ia
tak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Papa”, dan yang lebih penting lagi
nama ayahnya bukan “Herman Wibowo”, tetapi
“Anang Wibowo”.
Walau sedikit bingung, sebenarnya
Talita agak merasa senang. Apakah Ayah dan Ibunya sedang membuat prank untuknya, sebelum memberinya hadiah
dengan kejutan tak terduga-duga?
Dulu ayahnya suka melakukan
kejutan-kejutan dan sendau gurau, sewaktu Talita masih kecil. Seiring waktu,
ayahnya seperti semakin kaku. Bahkan, semenjak usia Talita beranjak remaja,
sikap ayahnya semakin keras. Semakin banyak pula larangan dari ayahnya yang
membatasi pergaulan Talita. Tak boleh terlambat pulang sekolah. Tak boleh
pulang terlalu malam saat pergi dengan teman-teman. Dan yang paling
menjengkelkan, adalah tak boleh pacaran. Seolah itu semua belum cukup, apa yang
boleh dan tidak boleh dimakan oleh Talita, juga diatur ayahnya. Ayahnya juga
selalu memaksa Talita mengenakan hijab. Zaman berubah kian canggih, tetapi
sikap ayahnya justru semakin kuno.
Talita hampir-hampir membenci
Ayahnya. Ah, tetapi rupanya ia hanya salah menduga, ayahnya tak sejahat itu.
Pesan ini buktinya, Ayahnya ingin memberinya hadiah apa saja yang
diinginkannya. Tentu saja, Talita ingin meminta sebuah ponsel paling canggih,
yang akan membuat teman-temannya menyesal pernah menertawakannya.
***
“Apa ayah sedang merencanakan sesuatu
untukku, Ibu?” Talita menyembunyikan
perasaan gembiranya.
Ibunya menatap Talita dengan penuh
tanda tanya.
“Ayolah, Ibu jangan pura-pura
begitu.”
“Kamu kenapa sih Nak? Kejutan apa?”
“Ah, Ibu,
lihat ini.” Talita menyodorkan ponselnya.
Ibunya
menerima ponsel itu, membaca pesan di layar. Sedetik kemudian wajahnya pucat
pasi, tangannya gemetar. Ponsel itu terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai,
layarnya benar-benar pecah sekarang.
***
Di ruang keluarga, Talita dengan tak
sabar menunggu Ayah dan Ibunya yang mengatakan hendak menyampaikan sesuatu yang
sangat penting. Namun, sudah beberapa
menit berlalu, Ayahnya hanya terus menghela napas dengan gelisah. Ibunya juga
hanya diam saja, sambil memandang Talita dengan wajah prihatin.
“Apa sih yang mau Ayah katakan? Ayah
mau bilang kalau pesan itu sebenarnya bukan dari Ayah?”
Sekali lagi Ayahnya menghela napas
berat.
“Memang pesan itu bukan dari Ayah,
Talita.”
“Oh, ya udah kalau begitu. Mungkin
itu hanya pesan iseng dari temanku, menyebut nama Ayah saja keliru kok. Masa,
nama Ayah ‘Anang’ ditulis ‘Herman’.” Talita tertawa, tetapi kemudian
terperanjat, “Lho, kenapa Ibu menangis?”
Ibunya hanya menggeleng-gelengkan
kepala sambil kedua tangannya menutupi wajahnya.
“Astaga, itu kan hanya handphone jadul yang sekarang rusak dan
mati, kenapa Ibu tangisi? Ayah akan membelikan yang baru untukku, handphone canggih yang layarnya lebar,
dan memory-nya besar. Yang tidak akan
membuatku malu lagi. Benar kan, Yah?”
“Ini bukan tentang handphone-mu yang rusak itu Talita.
Namun, sesuatu yang sangat penting. Yaitu, tentang siapa dirimu yang sebenarnya.”
“Ma―, maksud Ayah?”
“Talita, Ayah dan Ibumu, sangat mencintai dan
menyayangimu. Namun, kamu sudah dewasa sekarang, sudah saatnya kami
memberitahumu hal yang sangat penting ini.”
Talita tambah bingung.
“Ibumu ini, adalah benar-benar ibu
kandungmu.”
“Itu yang Ayah bilang hal yang sangat
penting?” Talita melongo.
“Iya, Nak. Namun―,” mata ayahnya mendadak berkaca-kaca, “ayahmu ini bukanlah
ayah kandungmu yang sebenarnya.”
“A―, apa?” Talita tidak percaya dengan
telinganya sendiri.
“Nama ayah kandungmu yang sebenarnya
adalah ‘Herman Wibowo’.”
Talita terguncang.
***
Di siang yang panas ini, Talita
berdiri di depan gerbang sekolahnya. Bis kota yang ditunggunya untuk pulang,
belum datang juga. Talita juga tidak bisa melakukan order ojek online, karena ponselnya yang mati belum
sempat diganti.
“Halo, Talita, apa kabar?” Seorang
pria paruh baya turun dari sebuah mobil, dan menyapanya.
Talita menatap pria asing itu, oh tidak, sepertinya
tidak terlalu asing. Senyum pria itu mirip sekali dengan senyum ayahnya, hanya
saja lebih ramah dan menawan.
“Perkenalkan, nama saya …”
“Herman Wibowo?”
“Ya, dan saya adalah …”
“Ayah kandung saya?”
“Astaga, mereka sudah menceritakan
semuanya ya?” Pria itu tertawa.
“Untuk apa Bapak menemui saya?”
“Jangan menyebut saya dengan ‘Bapak’,
panggil saja ‘Papa’, biar lebih akrab.”
“Untuk apa Bapak menemui saya?”
Talita mengulangi pertanyaan yang sama.
“Ah, hanya ingin sedikit berbincang-bincang
denganmu. Mari kita cari tempat yang nyaman buat bicara.” Pria itu membuka
pintu mobil untuk Talita.
Talita tidak bergerak.
“Ayolah, pasti banyak pertanyaan di
pikiranmu yang butuh jawaban. Mereka―maksudku ayah dan ibumu―mungkin belum menceritakan semuanya.”
Dengan ragu-ragu Talita memasuki
mobil itu, duduk di sebelah kursi pengemudi.
***
Sudah setahun ini Talita tinggal
bersama papanya, Herman Wibowo, seorang developer
perumahan kelas atas. Talita bisa mendapatkan apa saja yang ia mau sekarang.
Ponsel baru yang canggih. Uang jajan yang banyak. Mobil bagus yang mengantar
jemputnya dari sekolah, dengan sopir yang disediakan papanya.
Papanya memberikan kebebasan penuh
kepadanya. Sekarang Talita bisa pacaran. Pulang malam tidak dilarang, dugem
juga tak apa-apa. Talita juga tidak harus mengenakan jilbab seperti di rumahnya
dulu. Dan yang paling menyenangkan, Talita juga boleh makan apa saja,
sesukanya.
Mama tirinya yang masih sangat muda
itu, orangnya asyik-asyik saja, memperlakukan Talita bagaikan sahabat.
Seringkali mengajak Talita bercakap-cakap sambil mengisap rokok vape bersama. Mamanya juga mulai
mengajari Talita cara menikmati champagne,
minuman beralkohol yang berwarna jernih keemasan dan berbuih.
“Kalau tidak terlalu banyak, tidak
apa-apa. Tidak akan mabuk.” kata mamanya.
Talita langsung tersedak ketika
pertama kali mencoba. Cairan itu seolah membakar tenggorokan.
***
Talita tidak tahu, betapa sedih dan
khawatirnya ayah dan ibunya. Mereka semula mengira, kisah sedih yang pernah
mereka alami dahulu kala, telah hilang dan berlalu. Tetapi kedatangan Herman ke
dalam hidup mereka, kembali menyayatkan
luka lama, menyakiti mereka berdua dengan cara yang lebih buruk lagi.
Herman adalah pria perayu yang luar
biasa memikat. Ia pintar membuat siapa saja terperdaya. Dulu ketika mereka
masih muda, Anang sudah merencanakan untuk menikah dengan Marina. Namun, Marina
terpikat dengan bujukan Herman, ia meninggalkan Anang dan menikah dengan Herman
karena terlanjur hamil. Ternyata, Herman, kakak kandung Anang itu, tidak sebaik
yang ia sangka. Herman bukan pria setia, dan memperlakukan Marina dengan
buruk.
Akhirnya Marina menuntut cerai,
setelah Herman berbulan-bulan tak pulang dan main gila di luar sana. Anang yang
masih mencintai Marina, dan merasa iba dengan nasib Marina beserta bayi
kecilnya, memohon kepada Marina untuk bersedia menikah dengannya.
Berdua, mereka membesarkan Talita.
Hingga Talita besar dan beranjak
dewasa, Anang dan Marina tidak dikaruniai anak, meski telah mencoba berbagai
cara atas saran dokter. Mereka menerima kenyataan itu dengan lapang dada.
Mereka mencintai dan menyayangi Talita sepenuhnya, meski membesarkan Talita
ternyata tidaklah mudah. Talita harus diperlakukan ekstra hati-hati karena
kelainan jantung bawaan yang dideritanya.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Herman,
ia muncul begitu saja ketika Talita mulai beranjak dewasa, membawanya pergi
dengan seenaknya. Herman begitu pandai memanfaatkan kondisi Talita yang sedang
memasuki usia labil, di tengah kebingungannya mencari jati diri.
Anang dan Marina telah berusaha
mencegah perbuatan Herman untuk membawa Talita, tetapi seperti biasa, lelaki menawan
itu selalu mendapatkan keinginannya. Herman sendiri belum mempunyai anak lagi,
pada perkawinannya yang sudah entah ke berapa.
***
Talita sedang terbaring di ranjang
rumah sakit. Ia sedih dan menyesal, gaya hidupnya yang buruk selama setahun ini
menyebabkan sakit jantung―yang sebenarnya telah dideritanya
sejak kecil―menjadi semakin parah. Perlahan-lahan kini Talita mulai
menyadari, sikap keras ayah dan ibunya dulu sebenarnya adalah bentuk kasih
sayang kedua orang tuanya itu kepadanya. Mereka hanya ingin memastikan
kesehatan dan keselamatannya. Tanpa mereka, ternyata Talita belum mampu menjaga
dirinya sendiri.
***
Anang terkejut membaca pesan dari
Herman, yang mengabari bahwa Talita tengah sakit. Bahkan dokter yang
menanganinya tidak berani memastikan, sampai berapa lama Talita akan bertahan,
jika terlambat mendapatkan pertolongan yang sangat dibutuhkan.
Bersama Marina di sebelahnya, Anang
menyetir mobil dengan pikiran kalut. Mereka sedang menuju rumah sakit tempat Talita
dirawat.
Anang sangat khawatir memikirkan
Talita. Anak yang semenjak bayi telah dirawatnya―yang sangat dicintai dan disayanginya
itu―kini dalam bahaya.
“Hati-hati Mas, nyetirnya.” Berulangkali
Marina menegur Anang yang kurang konsentrasi.
“Maaf, Marina.” Anang kembali mencoba
fokus menyetir, tetapi pikirannya kembali melayang ke mana-mana.
Anang tidak memperhatikan lampu merah
tanda berhenti. Mobilnya terus melaju dengan kencang. Sedetik kemudian
terdengar suara benturan yang sangat keras. Sebuah truk tronton menabraknya
dari samping kanan. Mobil Anang terseret cukup jauh dengan suara yang
mengerikan, sebelum akhirnya terhenti.
Sepertinya Anang terluka parah, darah
mengucur dari sisi kepala, tubuhnya terhimpit setir mobil, tetapi masih sadar
meski kondisinya payah. Marina juga terluka, tetapi keadaannya jauh lebih baik
dibanding suaminya, ia sadar sepenuhnya, meski sangat terguncang.
Marina histeris melihat kondisi
suaminya. Anang menggerak-gerakkan bibir
dengan susah payah, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Dengan kalut Marina mendekatkan telinganya ke
mulut Anang, berusaha mendengarkan bisikan yang teramat lemah.
Rupanya apa yang dibisikkan suaminya
itu, adalah dua pesan terakhir, yang harus disampaikan Marina kepada Talita.
Lelaki berhati tulus, yang telah bersedia mencintainya dan mencintai anaknya
dengan apa adanya itu, kemudian tidak pernah tersadar lagi.
***
Talita baru bisa mengunjungi makam
ayahnya beberapa waktu kemudian, setelah memerlukan waktu yang ternyata cukup
lama, untuk memulihkan kondisi pasca operasi besar yang telah menyelamatkan
hidupnya.
Mengenakan kerudung hitam, Talita
bersimpuh di sisi makam pria yang telah membesarkan dan menyayanginya itu. Ia
berdoa sambil berlinang air mata. Memohonkan ampun kepada Sang Maha Pencipta, agar menempatkan pria baik hati itu di
sisi-Nya yang mulia.
Talita sengaja datang sendirian ke
makam, karena ia ingin berlama-lama di sini. Di makam pria yang tak sempat
ditemuinya pada masa-masa terakhir hidupnya. Dulu ia tak pernah mengunjungi
ayah dan ibunya, atau bahkan sekedar untuk menelepon atau mengirim pesan. Selalu
ayah dan ibunya yang berusaha untuk meneleponnya terlebih dahulu untuk
menanyakan kabar, yang kemudian dijawabnya dengan malas dan sekedarnya. Kini ia
sangat menyesal, tetapi waktu tak mungkin diputar ulang.
Selama dirawat di rumah sakit, ibunyalah
yang setia mendampingi dan merawat Talita, bukan papa atau mamanya. Meski dalam suasana
berkabung, akhirnya Marina berhasil menuaikan dua pesan terakhir almarhum
suaminya―Anang Wibowo―kepada Talita.
Pesan pertama, yaitu untuk
menyelamatkan Talita dengan segala cara, telah dilaksanakan dengan sukses. Sekarang,
Marina juga berhasil melaksanakan pesan kedua, yaitu membujuk Talita agar membaca
sebuah novel berjudul My Beloved Niqobi, karya Finaira Kara, salah seorang
penulis FLP (Forum Lingkar Pena). Novel itu ternyata membuat Talita sangat terinspirasi untuk kembali menjadi anak
yang baik, dan bersedia mengenakan hijab tanpa dipaksa lagi. Sepulang dari
rumah sakit, Talita memutuskan untuk pulang kembali kepada ibunya.
Siang ini, di sisi makam ayahnya, Talita beranjak berdiri, ia sudah cukup lama di sini, sudah waktunya pulang.
Sambil mengusap airmatanya, Talita mengucapkan beberapa patah kata untuk berpamitan, meski ia tahu ayahnya sudah tak bisa mendengarnya lagi.
Talita membalikkan badan, ia terkejut, ternyata ibunya sedang berdiri di belakangnya, entah sudah berapa lama.
Sambil mengusap airmatanya, Talita mengucapkan beberapa patah kata untuk berpamitan, meski ia tahu ayahnya sudah tak bisa mendengarnya lagi.
Talita membalikkan badan, ia terkejut, ternyata ibunya sedang berdiri di belakangnya, entah sudah berapa lama.
“Maaf, Bu, Talita mengunjungi makam Ayah, tanpa berpamitan kepada Ibu. Ibu
tadi sedang tidur, dan Talita tidak ingin mengganggu istirahat Ibu.”
“Tidak apa-apa Talita, Ibu juga sedang ingin
ziarah ke makam ayahmu.” wanita itu tersenyum,
“Sini, peluk Ibu.”
Talita memeluk ibunya.
“Kau tahu, kenapa Ibu suka sekali memelukmu?”
“Karena Ibu menyayangi Talita, kan?”
“Benar sekali, Nak, tetapi ada hal
yang lain juga.”
Talita pura-pura tidak mengerti,
bahwa yang dimaksud oleh ibunya, adalah sesuatu yang berkaitan dengan pesan
pertama ayahnya, sebelum meninggal.
“Apa itu, Bu?”
“Karena Ibu merindukan degup jantung
ayahmu Nak, yang kini berdenyut lembut di dalam tubuhmu.”
Yogyakarta, 6 Maret 2020
Baca ini awalnya kukira pesannya adalah, "jantungku untuknya" ternyata aku salah duga, karena yang benar adalah dua pesan Ayah, bukan dua kata dari Ayah.
BalasHapusCerita menarik di pagi hari, menggelitik dengan gaya hendonismenya Herman yang singkat diceritakan tapi cukup menguatkan karakternya sampai akhir. Juga si tokoh Talita yang lagi dalam masa labilnya, itu sebenarnya juga konflik dalam cerita yang biasa, tapi selalu menarik buat dikulik.
Tentang donor-mendonor ini rasanya juga memilukan dalam cerita.
Terima kasih untuk penyebutan novelku, Pak Sunu, hahaha. Semangat selalu, semoga bisa saling menginspirasi.
Kutunggu cerpen selanjutnya yang lebih greget.