Langsung ke konten utama

PRESIDEN PILIHAN SAYA



Setelah memutuskan untuk mengabdikan sisa hidup saya dengan menulis novel-novel best seller internasional, saya merasa harus berhati-hati dalam memutuskan siapakah capres (calon presiden) Indonesia, yang akan saya pilih dalam kontestasi pilpres (pemilihan presiden) 2019.

Presiden memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan sebagai warga negara Indonesia, saya dan anda, akan merasakan dampak langsung dari setiap kebijakan, tindakan, bahkan ucapan presiden kita. 

Presiden adalah manusia pilihan Tuhan, hanya satu dari sekian ratus juta warga negara Indonesia yang akhirnya bisa menjadi seorang presiden, dalam periode lima tahunan. Tuhan, melalui tangan-tangan kita yang mencoblos di bilik TPS (Tempat Pemungutan Suara), menetapkan takdirnya.   

Ada dua alternatif capres 2019, yaitu Bapak Jokowi (Joko Widodo) dan Bapak Prabowo (Prabowo Subianto). Tentu kita tidak bisa mencoblos dua-duanya, karena surat suara kita akan dianggap rusak dan tidak sah. Jadi mau tidak mau, kita hanya boleh memilih satu.

Buat sebagian orang, memilih tidaklah mudah, mereka akan terlebih dahulu melihat rekam jejak, program-program yang ditawarkan dan lain sebagainya. Sebagian yang lain akan membuat keputusan berdasarkan suka atau benci. Atau berdasarkan sentimen tertentu, tidak penting apakah obyektif atau subyektif. Tidak penting juga, dari mana rasa suka dan bencinya itu, bermula.

Berbeda dengan mereka yang entah siapa, sebagai seorang penulis novel,  cara saya memutuskan tidak terlalu rumit, tidak pula sederhana. Sedang-sedang saja. Yang penting adalah, “apa dampaknya?” Salah memilih akan menciptakan kerugian besar bagi kita.

Bayangkan kalau saya memilih Pak Jokowi, maka jutaan pendukung Pak Prabowo akan membenci, dan tak akan sudi membaca novel saya yang berjudul “SEPOTONG HATI LELAKI”. Begitu pula sebaliknya, jika saya mencoblos Pak  Prabowo, maka ada risiko jutaan pendukung Pak Jokowi akan memusuhi dan tak sudi pula membaca novel saya yang sedang terbit di cabaca.id itu.

Namun, seandainya saya sanggup mengabaikan risiko yang akan  saya tanggung dari para pendukung Pak Jokowi maupun Pak Prabowo, sebenarnya ada cara sangat mudah dalam memutuskan siapakah presiden pilihan saya. Yaitu, yang gemar membaca novel. 

Masalahnya, ternyata dua-duanya gemar membaca novel. Haduh kan? Haduh banget!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA MINI: BIBIR TERMANIS

BIBIR TERMANIS Cerita Mini: J.P. SUNU Semenjak masih SMA, Joni hanya menginginkan dua hal saja untuk dimiliki. Pertama dompet tebal di kantongnya, yang kedua bibir tipis seorang kekasih. Namun, yang didapatkannya justru kebalikannya: dompet yang tipis, dan pacar berbibir tebal. Takdir, ternyata punya selera humor yang menjengkelkan. Joni sungguh tak tahu diri, padahal pacarnya pintar dan setia, meski sifat cemburunya agak mengerikan. Joni hanya pura-pura setia, karena membutuhkan otak encer Yuko untuk membantu mengerjakan PR-nya, dan membimbing otaknya sendiri yang berkualitas rendah agar bisa lulus sekolah. Setelah lulus sekolah, Yuko tidak memilih jurusan yang disukainya sendiri di perguruan tinggi, melainkan mengikuti jurusan yang menurutnya termudah agar bisa satu kelas untuk menemani dan menjaga Joni selama kuliah.   Entah apa yang dilihat oleh Yuko pada diri Joni, cintanya kepada Joni adalah sejenis cinta yang sangat buta.     Yuko sesunguhnya gadis ...

ASAP DARI SURGA

Bukan cuma neraka yang berasap, surga juga. Demikian penjelasan dari Si Anu. Asap surga bisa membuatmu tertawa gembira. "Coba saja kalau tak percaya." Katanya, sambil menyodorkan sebatang rokok lintingan dan korek api. Si Anu ini kelas satu SMA, pindahan dari Jakarta. Dia kos di rumah kami, di daerah pelosok bernama kecamatan Jumapolo. Saya masih kelas satu SMP saat itu. Entah kenapa saya menolak tawarannya. Padahal saya sendiri suka mencuri-curi kesempatan mencoba merokok, kadang-kadang. Kenapa Si Anu pindah dari Jakarta ke pelosok kampung kami, adalah misteri. Pokoknya, ayahnya kebetulan naik bus bareng ayah saya, lalu kenalan, kemudian minta tolong supaya anaknya boleh kos di rumah kami. Katanya, pergaulan remaja di Jakarta kurang baik. Si Anu itu orangnya asik, baru saja pindah temannya langsung banyak. Di rumah kami,  sikapnya juga baik, sepertinya cukup kerasan. Yang membuat saya heran, dia suka sekali keramas dengan daun seledri, katanya bisa bikin rambut jad...

POLITIK KAMPUNG

Saya pernah tinggal di sebuah kampung, di komplek perumahan lama. Kebanyakan penghuninya adalah usia pensiunan, atau menjelang pensiun. Jadi saya termasuk warga muda. Ketika tiba waktu pergantian ketua RT, saya kaget karena nama saya masuk nominasi calon ketua RT. Dan lebih kaget lagi ketika hasil pemungutan suara saya menang mutlak. Saya merasa tidak kompeten, mereka jauh lebih senior dan terlihat lebih pantas menjadi ketua RT. Tapi mereka bilang "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Ternyata semua tidak baik-baik saja. Suatu malam salah satu warga yang baru keluar dari penjara, menemui saya dengan mulut bau alkohol. Dia marah-marah, karena selama di penjara, pengurus RT tidak mengunjunginya, dan tidak memberinya sumbangan dari dana sosial RT. Dia merasa seharusnya diperlakukan sama dengan warga yang masuk rumah sakit. Ditengok dan disumbang ala kadarnya. Apalagi dia masuk penjara hanya karena menusuk orang, dalam rangka berebut menguasai lahan parkir. "It...