Sahabatnya ayah saya, menelepon saya. Suaranya berwibawa dan susah ditolak. "Tolong dong kamu tengok N*n*k. Anak perempuanku yang bungsu itu kasihan, kos sendirian di Jogja. Semester depan dia mungkin sudah wisuda."
"Ba-ba-baik Om."
Meski agak enggan karena lumayan jauh dari kos saya sendiri, petang itu saya naik motor mencari tempat tinggalnya.
Samar-samar saya ingat, sewaktu kami masih kecil pernah bertemu, ketika itu keluarganya mengunjungi keluarga saya. Tapi saya sudah lupa wajahnya. Sekarang usia kami di awal 20an.
Sampai di rumah kos cewek itu, hari sudah agak gelap. Langit mendung, mungkin sebentar lagi hujan. Hebatnya lagi, saya lupa bawa mantel hujan.
Saya terkejut begitu bertemu dengannya. Dia ternyata lebih cantik dari dugaan saya. Dan celana pendeknya, bisa membuat otak cowok muda konslet seketika. Gila, kenapa nggak kemarin-kemarin saya mencarinya.
Sikapnya ramah dan menyenangkan. Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya untuk dibuatkan kopi.
Tapi saya terpana, ketika melihatnya keluar membawa kopi suguhannya. Bukan dalam cangkir kecil seperti seharusnya. Tapi dalam sebuah gelas bir besar. Mungkin isinya hampir satu liter, panas mengepul seperti baru saja keluar dari neraka.
Di luar hujan mulai menetes, saya tidak mungkin berlama-lama di sini. Tapi dia memaksa saya meminum kopinya dulu sebelum pulang.
Saya terburu-buru meminumnya, lidah saya langsung terbakar. Saya terlonjak, gelas terguncang, kopi tumpah di celana. Saya melompat-lompat panik. Dia kebingungan dan pucat. Tangannya gemetar menyodorkan tisu.
Lupa pamitan, saya bergegas pulang. Rupanya dia juga shock, tak tahu harus mengucapkan apa.
Saya memacu motor di tengah hujan lebat. Paha saya yang tadi panas ketumpahan kopi, sekarang dingin hingga menggigil. Tapi lidah saya masih terasa sakit dan terluka, begitu pula sebagian besar harga diri saya.
Saya tidak pernah lagi menemuinya. Beberapa kali telepon dari ayahnya tidak saya angkat.
Ini bukan salah siapa-siapa, sebenarnya. Tapi kejadian tragis itu rasanya sebuah pertanda, bahwa kami tidak cocok bersama-sama.
Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)
"Ba-ba-baik Om."
Meski agak enggan karena lumayan jauh dari kos saya sendiri, petang itu saya naik motor mencari tempat tinggalnya.
Samar-samar saya ingat, sewaktu kami masih kecil pernah bertemu, ketika itu keluarganya mengunjungi keluarga saya. Tapi saya sudah lupa wajahnya. Sekarang usia kami di awal 20an.
Sampai di rumah kos cewek itu, hari sudah agak gelap. Langit mendung, mungkin sebentar lagi hujan. Hebatnya lagi, saya lupa bawa mantel hujan.
Saya terkejut begitu bertemu dengannya. Dia ternyata lebih cantik dari dugaan saya. Dan celana pendeknya, bisa membuat otak cowok muda konslet seketika. Gila, kenapa nggak kemarin-kemarin saya mencarinya.
Sikapnya ramah dan menyenangkan. Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya untuk dibuatkan kopi.
Tapi saya terpana, ketika melihatnya keluar membawa kopi suguhannya. Bukan dalam cangkir kecil seperti seharusnya. Tapi dalam sebuah gelas bir besar. Mungkin isinya hampir satu liter, panas mengepul seperti baru saja keluar dari neraka.
Di luar hujan mulai menetes, saya tidak mungkin berlama-lama di sini. Tapi dia memaksa saya meminum kopinya dulu sebelum pulang.
Saya terburu-buru meminumnya, lidah saya langsung terbakar. Saya terlonjak, gelas terguncang, kopi tumpah di celana. Saya melompat-lompat panik. Dia kebingungan dan pucat. Tangannya gemetar menyodorkan tisu.
Lupa pamitan, saya bergegas pulang. Rupanya dia juga shock, tak tahu harus mengucapkan apa.
Saya memacu motor di tengah hujan lebat. Paha saya yang tadi panas ketumpahan kopi, sekarang dingin hingga menggigil. Tapi lidah saya masih terasa sakit dan terluka, begitu pula sebagian besar harga diri saya.
Saya tidak pernah lagi menemuinya. Beberapa kali telepon dari ayahnya tidak saya angkat.
Ini bukan salah siapa-siapa, sebenarnya. Tapi kejadian tragis itu rasanya sebuah pertanda, bahwa kami tidak cocok bersama-sama.
Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)
Komentar
Posting Komentar