Suatu hari seseorang datang ke rumah, memperkenalkan diri. Dengan sopan sekaligus memelas, meminta kesediaan saya untuk menjadi saksi di pengadilan.
Pengadilan? Yang benar saja!
Saya tidak mau berurusan dengan hukum. Saya tidak tahu resikonya, dan ini berbahaya. Saya harus bilang "TIDAK" tentunya.
Sayangnya, mulut saya malah bilang "Ya, saya akan datang." Setelah tamu itu pergi, saya mengutuki diri sendiri.
Sebelum masuk ruang sidang, pengacaranya mendekati saya dan mengatakan, agar saya nanti mengatakan apa adanya. Karena jika dianggap kesaksian palsu, bisa dipenjara.
Mungkin pengacara itu bermaksud baik, tapi omongannya memperparah kegugupan saya. Di depan sidang saya mengucapkan sumpah dengan terbata-bata.
Menit-menit pertama, saya memberikan kesaksian dengan sangat hati-hati. Tapi pengacara lawan memprovokasi, meragukan kapasitas saya sebagai saksi. Saya jadi emosi.
Saya mulai mengoceh tanpa kendali. Dengan kesal saya mengatakan hal-hal buruk tentang kliennya. Mungkin yang saya katakan memang benar, tapi dengan cara keterlaluan.
Keluar ruang sidang saya menyesal, seharusnya saya bisa mengendalikan diri, tidak perlu sekasar itu.
Beberapa hari kemudian, tamu itu datang ke rumah lagi, membawakan sekotak ayam goreng. Mungkin sebagai tanda terimakasih, karena saya telah membantu "menghajar" lawannya.
Baru kali ini, saya makan ayam goreng dengan perasaan antara ingin menangis atau tertawa.
Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)
Pengadilan? Yang benar saja!
Saya tidak mau berurusan dengan hukum. Saya tidak tahu resikonya, dan ini berbahaya. Saya harus bilang "TIDAK" tentunya.
Sayangnya, mulut saya malah bilang "Ya, saya akan datang." Setelah tamu itu pergi, saya mengutuki diri sendiri.
Sebelum masuk ruang sidang, pengacaranya mendekati saya dan mengatakan, agar saya nanti mengatakan apa adanya. Karena jika dianggap kesaksian palsu, bisa dipenjara.
Mungkin pengacara itu bermaksud baik, tapi omongannya memperparah kegugupan saya. Di depan sidang saya mengucapkan sumpah dengan terbata-bata.
Menit-menit pertama, saya memberikan kesaksian dengan sangat hati-hati. Tapi pengacara lawan memprovokasi, meragukan kapasitas saya sebagai saksi. Saya jadi emosi.
Saya mulai mengoceh tanpa kendali. Dengan kesal saya mengatakan hal-hal buruk tentang kliennya. Mungkin yang saya katakan memang benar, tapi dengan cara keterlaluan.
Keluar ruang sidang saya menyesal, seharusnya saya bisa mengendalikan diri, tidak perlu sekasar itu.
Beberapa hari kemudian, tamu itu datang ke rumah lagi, membawakan sekotak ayam goreng. Mungkin sebagai tanda terimakasih, karena saya telah membantu "menghajar" lawannya.
Baru kali ini, saya makan ayam goreng dengan perasaan antara ingin menangis atau tertawa.
Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)
Komentar
Posting Komentar