Langsung ke konten utama

SAKSI MATA

Suatu hari seseorang datang ke rumah, memperkenalkan diri. Dengan sopan sekaligus  memelas, meminta kesediaan saya untuk menjadi saksi di pengadilan.

Pengadilan? Yang benar saja! 

Saya tidak mau berurusan dengan hukum. Saya tidak tahu resikonya, dan ini berbahaya. Saya harus bilang "TIDAK" tentunya.

Sayangnya, mulut saya malah bilang "Ya, saya akan datang." Setelah tamu itu pergi, saya mengutuki diri sendiri.

Sebelum masuk ruang sidang, pengacaranya mendekati saya dan mengatakan, agar saya nanti mengatakan apa adanya. Karena jika dianggap kesaksian palsu, bisa dipenjara.

Mungkin pengacara itu bermaksud baik, tapi omongannya  memperparah kegugupan saya. Di depan sidang saya mengucapkan sumpah dengan terbata-bata.

Menit-menit pertama, saya memberikan kesaksian dengan sangat hati-hati. Tapi pengacara lawan memprovokasi, meragukan kapasitas saya sebagai saksi. Saya jadi emosi.

Saya mulai mengoceh tanpa kendali. Dengan kesal saya mengatakan hal-hal buruk tentang kliennya. Mungkin yang saya katakan memang benar, tapi dengan cara keterlaluan.

Keluar ruang sidang saya menyesal, seharusnya saya bisa mengendalikan diri, tidak perlu sekasar itu.

Beberapa hari kemudian, tamu itu datang ke rumah lagi, membawakan sekotak ayam goreng. Mungkin sebagai tanda terimakasih, karena saya telah membantu "menghajar" lawannya.

Baru kali ini, saya makan ayam goreng dengan perasaan antara ingin menangis atau tertawa.

Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA MINI: BIBIR TERMANIS

BIBIR TERMANIS Cerita Mini: J.P. SUNU Semenjak masih SMA, Joni hanya menginginkan dua hal saja untuk dimiliki. Pertama dompet tebal di kantongnya, yang kedua bibir tipis seorang kekasih. Namun, yang didapatkannya justru kebalikannya: dompet yang tipis, dan pacar berbibir tebal. Takdir, ternyata punya selera humor yang menjengkelkan. Joni sungguh tak tahu diri, padahal pacarnya pintar dan setia, meski sifat cemburunya agak mengerikan. Joni hanya pura-pura setia, karena membutuhkan otak encer Yuko untuk membantu mengerjakan PR-nya, dan membimbing otaknya sendiri yang berkualitas rendah agar bisa lulus sekolah. Setelah lulus sekolah, Yuko tidak memilih jurusan yang disukainya sendiri di perguruan tinggi, melainkan mengikuti jurusan yang menurutnya termudah agar bisa satu kelas untuk menemani dan menjaga Joni selama kuliah.   Entah apa yang dilihat oleh Yuko pada diri Joni, cintanya kepada Joni adalah sejenis cinta yang sangat buta.     Yuko sesunguhnya gadis ...

Cerpen: DUA PESAN AYAH

DUA PESAN AYAH Cerpen: J.P. SUNU Talita sedang uring-uringan. Pada hari ulang tahunnya, ayahnya malah memberinya hadiah berupa sebuah novel, berjudul My Beloved Niqobi, karya salah satu penulis FLP (Forum Lingkar Pena) yang bernama Finaira Kara. Talita sangat kecewa, bukan hadiah novel yang Talita inginkan.              Talita menginginkan ponsel model terbaru, seperti yang dimiliki teman-temannya. Ponsel canggih, bukan ponsel jadul yang loading time -nya bikin frustrasi, dan telah lama kehabisan memory space seperti miliknya ini. Belum lagi tampilan layar kecilnya yang retak, sehingga membuatnya ditertawakan teman-teman.             Akhir-akhir ini Talita sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa ayahnya pelit sekali. Talita tahu, ayahnya bukan orang miskin, meski juga bukan orang yang sangat kaya raya. Dengan pekerjaannya sebagai kontraktor bangunan, Ayahny...

ASAP DARI SURGA

Bukan cuma neraka yang berasap, surga juga. Demikian penjelasan dari Si Anu. Asap surga bisa membuatmu tertawa gembira. "Coba saja kalau tak percaya." Katanya, sambil menyodorkan sebatang rokok lintingan dan korek api. Si Anu ini kelas satu SMA, pindahan dari Jakarta. Dia kos di rumah kami, di daerah pelosok bernama kecamatan Jumapolo. Saya masih kelas satu SMP saat itu. Entah kenapa saya menolak tawarannya. Padahal saya sendiri suka mencuri-curi kesempatan mencoba merokok, kadang-kadang. Kenapa Si Anu pindah dari Jakarta ke pelosok kampung kami, adalah misteri. Pokoknya, ayahnya kebetulan naik bus bareng ayah saya, lalu kenalan, kemudian minta tolong supaya anaknya boleh kos di rumah kami. Katanya, pergaulan remaja di Jakarta kurang baik. Si Anu itu orangnya asik, baru saja pindah temannya langsung banyak. Di rumah kami,  sikapnya juga baik, sepertinya cukup kerasan. Yang membuat saya heran, dia suka sekali keramas dengan daun seledri, katanya bisa bikin rambut jad...