Langsung ke konten utama

MELAWAN POLISI

Waktu itu saya masih kelas 5 SD, begitu pula teman saya. Pulang sekolah, kami jalan kaki. Melewati belakang kantor polisi.

Dari pagar tembok belakang kantor polisi, kami melihat setandan pisang menyembul dari pohonnya, di atas pagar. Menguning, matang, dan mengundang.

Entah dari mana ide itu datang, kami mulai menyusun rencana mission impossible, untuk merampok setandan pisang menggiurkan. Di pekarangan kantor polisi.

Waktu itu, ide itu terasa sangat hebat dan menantang. Bayangkan, 2 anak kecil menyerang sebuah lembaga yang berfungsi memelihara keamanan dan menegakkan hukum. Dalam konteks yang lebih luas, kami sedang bersekongkol melawan negara.

Rencana hebat itu melibatkan sebuah tangga bambu, sebilah pisau dapur, dan kebodohan kami berdua. Temanku mulai memanjat tangga bambu sambil membawa pisau dapur, saya memegangi tangga agar tak ambruk.

Sampai di atas pagar, teman saya segera beraksi dengan pisaunya, berusaha memotong tandan pisang dari pohonnya. Sejauh ini, rencana berjalan sempurna, gagang tandan pisang hampir putus dari batang pohonnya.

Tapi semuanya jadi berantakan, ketika tiba-tiba dari balik pagar terdengar sebuah teriakan "Maliiinggg!!!"

Kami kaget setengah mati. Temanku menuruni tangga bambu dengan kecepatan jet tempur. Kami kabur tunggang langgang. Meninggalkan pisau dapur dan tangga bambu sebagai barang bukti.

Saya lari ke kanan, dia ke kiri. Bersamaan dengan suara caci maki, ribuan batu kerikil berhamburan menghujani kami dari balik pagar.

Itu pengalaman yang sangat menyeramkan. Tapi yang terburuk adalah, polisi yang sedang berjaga sempat melihat wajah kami. Dia mengenali saya, karena setiap hari berangkat dan pulang melewati kantor polisi.

Keesokan harinya, dan seterusnya, saya berangkat dan pulang menghindari kantor polisi. Memilih jalan memutar, sehingga harus menambah jarak lebih dari satu kilometer. Jalan kaki. Menyumpahi diri sendiri.


Twitter: @sabdaliar (J.P. SUNU)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA MINI: BIBIR TERMANIS

BIBIR TERMANIS Cerita Mini: J.P. SUNU Semenjak masih SMA, Joni hanya menginginkan dua hal saja untuk dimiliki. Pertama dompet tebal di kantongnya, yang kedua bibir tipis seorang kekasih. Namun, yang didapatkannya justru kebalikannya: dompet yang tipis, dan pacar berbibir tebal. Takdir, ternyata punya selera humor yang menjengkelkan. Joni sungguh tak tahu diri, padahal pacarnya pintar dan setia, meski sifat cemburunya agak mengerikan. Joni hanya pura-pura setia, karena membutuhkan otak encer Yuko untuk membantu mengerjakan PR-nya, dan membimbing otaknya sendiri yang berkualitas rendah agar bisa lulus sekolah. Setelah lulus sekolah, Yuko tidak memilih jurusan yang disukainya sendiri di perguruan tinggi, melainkan mengikuti jurusan yang menurutnya termudah agar bisa satu kelas untuk menemani dan menjaga Joni selama kuliah.   Entah apa yang dilihat oleh Yuko pada diri Joni, cintanya kepada Joni adalah sejenis cinta yang sangat buta.     Yuko sesunguhnya gadis ...

ASAP DARI SURGA

Bukan cuma neraka yang berasap, surga juga. Demikian penjelasan dari Si Anu. Asap surga bisa membuatmu tertawa gembira. "Coba saja kalau tak percaya." Katanya, sambil menyodorkan sebatang rokok lintingan dan korek api. Si Anu ini kelas satu SMA, pindahan dari Jakarta. Dia kos di rumah kami, di daerah pelosok bernama kecamatan Jumapolo. Saya masih kelas satu SMP saat itu. Entah kenapa saya menolak tawarannya. Padahal saya sendiri suka mencuri-curi kesempatan mencoba merokok, kadang-kadang. Kenapa Si Anu pindah dari Jakarta ke pelosok kampung kami, adalah misteri. Pokoknya, ayahnya kebetulan naik bus bareng ayah saya, lalu kenalan, kemudian minta tolong supaya anaknya boleh kos di rumah kami. Katanya, pergaulan remaja di Jakarta kurang baik. Si Anu itu orangnya asik, baru saja pindah temannya langsung banyak. Di rumah kami,  sikapnya juga baik, sepertinya cukup kerasan. Yang membuat saya heran, dia suka sekali keramas dengan daun seledri, katanya bisa bikin rambut jad...

POLITIK KAMPUNG

Saya pernah tinggal di sebuah kampung, di komplek perumahan lama. Kebanyakan penghuninya adalah usia pensiunan, atau menjelang pensiun. Jadi saya termasuk warga muda. Ketika tiba waktu pergantian ketua RT, saya kaget karena nama saya masuk nominasi calon ketua RT. Dan lebih kaget lagi ketika hasil pemungutan suara saya menang mutlak. Saya merasa tidak kompeten, mereka jauh lebih senior dan terlihat lebih pantas menjadi ketua RT. Tapi mereka bilang "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Ternyata semua tidak baik-baik saja. Suatu malam salah satu warga yang baru keluar dari penjara, menemui saya dengan mulut bau alkohol. Dia marah-marah, karena selama di penjara, pengurus RT tidak mengunjunginya, dan tidak memberinya sumbangan dari dana sosial RT. Dia merasa seharusnya diperlakukan sama dengan warga yang masuk rumah sakit. Ditengok dan disumbang ala kadarnya. Apalagi dia masuk penjara hanya karena menusuk orang, dalam rangka berebut menguasai lahan parkir. "It...